Filosofi dan Latar Belakang:
Gereja Brayat Minulya Wirobrajan terletak di sebuah kampung bernama Patangpuluhan. Sebuah kelurahan di bawah pemerintahan Kemantren Wirobrajan. 4 Nama kampung yang antara lain menjadi wilayah hierarki Gereja Brayat Minulya adalah Wirobrajan, Ketanggungan, Bugisan dan Patangpuluhan. Secara historis 4 nama kampung tersebut merupakan wilayah dari 4 bregada/prajurit (pasukan) Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yakni Wirabraja, Ketanggung, Patangpuluh dan Bugis. Di mana masing-masing bregada atau pasukan tersebut mempunyai atribut dan filosofi yang berbeda sesuai tugas yang diembannya.
> Wirabraja : Berani, tajam indranya dan pantang menyerah membela kebenaran
> Patangpuluh : Kekuatan dan ketangguhan
> Ketanggung : pasukan dengan tanggung jawab berat sebagai pengawal raja
> Bugis : Pasukan yang diharapkan menjadi terang dalam kegelapan.
Pada perkembangan jaman selanjutnya bregada atau pasukan yang semula sebagai prajurit militer Kraton, kini berubah fungsi menjadi penjaga budaya. Budaya Jawa yang menjadi akar kehidupan bermasyarakat.
Mengadopsi dari latar belakang sejarah nama-nama wilayah tersebut maka Gereja Brayat Minulya pun selayaknya memiliki nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filosofi para prajurit tersebut yang melebur menjadi satu nilai hidup yakni PATRIOTIK. Patriotik yang dikembangkan menjadi filosofi GBM yakni: Membangun Gereja dengan mengedepankan kekuatan iman, menjunjung nilai kebenaran, bertanggungjawab akan tugas pelayanan untuk menjadi terang dalam kegelapan.
Gereja Brayat Minulya Wirobrajan secara geografis terletak di Kelurahan Patangpuluhan, pada sebuah perkampungan padat penduduk. Di mana secara fisik letak gedung maupun kultur masyarakat sangat erat bersinggungan dalam setiap aktivitas gerejani yang selalu melibatkan potensi masyarakat sekitar yang terdiri dari kalangan heterogen. Berangkat dari fenomena tersebut maka selayaknya jika Geraja Brayat Minulya menghidupi tata nilai yang hidup dan bergerak di dalam masyarakat sekitar. Tidak berdiri secara eksklusif, namun berada pada dinamika masyarakat yang ada. Hal ini dapat dijadikan sebagai akar falsafah Gereja Brayat Minulya, dengan mengadopsi nilai luhur budaya Jawa: Memayu Hayuning Bawana.
Memayu Hayuning Bawana adalah nilai luhur dalam budaya Jawa yang berarti memperindah dunia. Sebuah konsep kehidupan Jawa tentang spiritualitas budaya. Proses hidup manusia melalui laku, menghayati hidup dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran untuk keindahan di tengah hiruk pikuknya dunia (memayu) untuk mencapai keselamatan (hayu).
Spiritualitas budaya ‘Memayu Hayuning Bawana’ ini sangat relevan dengan kondisi Gereja Brayat Minulya yang berlokasi di tengah kampung tersebut. Hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan di mana ia berada. Maka melalui interaksi dengan kehidupan kampung dengan segala gejolak sosialnya, diharapkan Gereja Brayat Minulya, melalui kehidupan umatnya, turut serta berperan serta memberi kontribusi dalam menjaga keselarasan dan keindahan hidup dengan masyarakat sekitar. Nilai filosofi ‘Memayu Hayunung Bawana’ yang dihayati dalam budaya Jawa ini, selaras dengan ajaran Kristus tentang ajakan akan kebaikan dalam setiap langkah hidup. Siapa saja yang menanamkan kebaikan dalam ‘jagad rame’ (bawana), kelak ia akan menuai hasilnya.
Gereja Brayat Minulya Wirobrajan berlindung pada Keluarga Kudus Nazareth, di mana Bunda Maria dan Bapa Yosef menjadi spirit dan motivasi semua keluarga di Paroki Administratif Brayat Minulya di Wirobrajan. Spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth ini dipilih menjadi sumber perlindungan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat di wilayah Gereja Brayat Minulya yang berada di tengah-tengah perkampungan Jawa. Di mana keluarga menjadi tempat untuk menemukan kedamaian dan kebersamaan. Keluarga sebagai tempat untuk ‘pulang’ dan saling menguatkan, dalam doa dengan iman, harapan dan kasih.
Dalam konsep budaya Jawa mengenal adanya filosofi (me) neng, (we) ning (si)nung dan (me) nang yang sangat relevan dengan spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth. Di mana Bunda Maria bersama Bapa Yosef menerima segala perintah Allah Bapa, dalam diam (meneng) namun dengan kesadaran penuh siap sedia untuk melakukannya, dalam keheningan (wening) hati yang bening menangkap semua kehendak Allah dengan mengatakan ‘Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu’. Maka ketika Bunda Maria telah sampai tahap ‘meneng’ dan ‘wening’, ia ‘kasi(nung)an’, terberkati. Maria menjadi wanita terpilih dengan (me) nang’ yakni wanita yang memperoleh anugerah Allah menjadi ibu Tuhan. Menjadi rahmat bagi semesta dan semua yang berdevosi padanya.
Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang erat dengan laku prihatin, untuk memperoleh ketenangan batin dan mencapai kesempurnaan hidup. Dalam filosofi Jawa terdapat ajaran ‘manunggaling kawula lan Gusti’ dan memahami ‘sangkan paraning dumadi’. Menimba spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth dengan segala keteguhan iman dan kekuatan doa serta ketaatan pada kehendak Allah, keluarga-keluarga di Gereja Brayat Minulya Wirobrajan akan banyak belajar tentang segala hal kebaikan, karena dekat dengan Tuhan Yesus sendiri Sang Guru dan Sumber Kasih Sejati yang menjadi bagian utama dan terutama dalam Keluarga Kudus tersebut. Selayaknya hidup dalam rasa ‘manunggaling kawula lan Gusti’, menuju makna ‘Sangkan Paraning Dumadi’, tempat dari mana berasal dan tempat di mana akan kembali, yakni Rumah Bapa di Surga melalui Sang Putra.
*sumber referensi: jogjacagar.jogjaprov.go.id & wikipedia

Leave a Reply